(Gambar diambil dari Google)
Keterampilan dan kecakapan seorang guru adalah salah satu kunci keberhasilan dunia pendidikan. Sejarah membuktikan bagaimana kemajuan sebuah bangsa tidak pernah lepas dari potret seorang guru. Guru yang cakap, biasanya memudahkan peserta didik mudah menangkap. Sebaliknya, jika gurunya “gagap,” biasanya peserta didik akan ngap-ngap dan mudah menguap. Bagaimana menakar kualitas guru dan pendidikan yang sebenarnya?
Fenomena selama ini memperlihatkan ada begitu keluarga dari daerah pinggiran atau pedesaan yang berusaha menyekolahkan anak mereka di daerah perkotaan, meskipun di daerah asalnya, sekolah sudah tersedia. Animo masyarakat untuk menyekolahkan anak ke kota, menunjukkan satu anomali terkait pendidikan – muncul anggapan daerah kota jauh lebih berkualitas daripada di desa atau daerah pinggiran. Selain terkait faktor persepsi popularitas wilayah, ada juga anggapan bahwa guru-guru di kota lebih berkualitas darpada di pedesaan. Setidaknya, demikianlah cara berpikir sebagian masyarakat saat ini.
Jika dicermati secara komprehensif-kritis, kualitas pendidikan dan guru, tidak bisa ditakar dari faktor indeks persepsi riuh publik dan letak geografis. Kualitas seorang guru, hemat saya, justru perlu dibidik dari kemampuannya dalam memanfaatkan potensi dan keterampilan. Di saat yang sama, elaborasi kemampuan ini kemudian dicermati melalui strategi distribusi pengetahuan agar mampu dipahami dan diterapkan oleh peserta didik. Lalu pertanyaanya bagaimana cara untuk mencapai prospek guru demikian? Ada beberapa tawaran strategi yang dapat dielaborasikan dalam menunjang kualitas seorang guru dan keberhasilan dunia pendidikan.
Pertama, metode pembelajarannya. Guru yang cerdas-cerdik, biasanya tahu bagaimana cara membuat siswanya paham mengenai materi yang diajarkannya. Salah satunya berkaitan dengan metode pembelajaran yang digunakannya. Biasanya siswa akan lebih memahami komponen materi, jika disertai penjelasan contoh. Hal ini, bisa menjadi cara yang tepat untuk mendekatkan anak didiknya dengan situasi yang konkret. Metode seperti ini, bisa membuat para siswa bisa lebih memahami materi yang dijelaskan para pendidik.
Metode pembelajaran lain yang juga bisa digunakan adalah dengan metode praktik. Mata pelajaran seperti Penjaskes dan Seni Budaya merupakan mata pelajaran yang membutuhkan praktik. Jika hanya sebatas teori, biasanya siswa akan sulit untuk memahami, bahkan merasa jenuh, sebab mata pelajaran seperti itu paling banyak diminati di kalangan siswa – karena melatih keterampilan dan ketangkasan para siswa. Oleh karena itu, dianjurkan muatan materi untuk mata pelajaran demikian harus disertai praktik. Di lingkungan perkuliahan pun, dinamika pembelajaran juga perlu diimbangi dengan kerja nyata.
Kedua, strategi distribusi ilmu. Guru yang mengajar tanpa ekspresi dan menggunakan intonasi yang datar-datar saja, cenderung membangun rasa jenuh dalam diri para siswa. Seorang guru seharusnya menguasai materi ajar dengan baik, misalnya dengan menunjukkan ekspresi wajah yang bersahabat, menggunakan intonasi suara yang tidak terlalu monoton, dan sedikitnya memasukan cerita-cerita humoris. Cara ini, mampu membuat para siswa tidak mudah berpaling dari konten belajar, sekaligus menjaga atmosfer ruang belajar tetap hidup.
Ketiga, penggunaan fasilitas atau media pembelajaran. Perbedaan terbesar antara pendidikan konvensional dan modern bisa dicermati dari kebaruan fasilitas. Fasilitas-fasilitas pendidikan di era sekarang jauh lebih lengkap, bahkan lebih canggih, jika dibandingkan dengan pendidikan konvensional. Jika dahulu guru hanya menggunaka papan tulis untuk mengajar, sekarang guru bisa menggunakan fasilitas seperti LCD dan perkakas teknologi lainnya dalam mengajar.
Dengan fasilitas seperti ini, setidaknya waktu dan tenaga bisa dicover. Guru juga bisa mencari materi-materi mengajar melalui wadah internet, sehingga tidak melulu mengacu pada bahan ajar yang sama. Di masa pandemi sekarang, di beberapa sekolah sudah mulai diterapkan fasilitas belajar yang memungkinkan guru dan siswa masih bisa berinteraksi bahkan bertatap muka. Misalkan, pemanfaatan fasilitas, seperti Google Classroom. Fasilitas Google Classroom memungkinkan guru dan murid bisa melakukan aktivitas belajar dengan baik di masa pandemi.
Keempat, terkait kredibilitas seorang guru. Seorang guru tentunya tidak memberi pengetahuan yang sesat kepada muridnya. Seorang guru juga tidak mencuci otak para muridnya agar menganut paham-paham atau ideologi-ideologi tertentu. Kredibilitas, dengan demikian menjadi salah satu aspek yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pada hakikatnya, seorang guru diibaratkan seperti sebuah peta dimana ia menjadi penunjuk jalan bagi murid-muridnya. Dalam tataran praktis, guru yang memiliki kredibilitas yang tinggi, melakukan kewajibannya dengan memberikan pengetahuan yang benar kepada muridnya dan memenuhi kaidah-kaidah yang telah ditetapkan sesuai SOP dunia pendidikan. Kredibilitas guru membuat koneksi antara guru dan murid, tetap terjalin dalam dinamika belajar-mengajar.
Keempat metode di atas hanyalah sebagian dari cara yang dapat digunakan di era pendidikan sekarang. Selebihnya, masih banyak lagi metode yang dapat dilakukan. Semua upaya kerberhasilan dunia pendidikan tergantung dari kreativitas dan kecakapan guru.
Sebagai penegasan, guru yang berkualitas bukan hanya dilihat dari gelar akademiknya atau statusnya dalam sebuah lembaga pendidikan, tetapi dari kemampuannya mendialogkan pengetahuannya. Gelar akademik akan berhenti pada pribadi seorang pendidik, jika ia kurang cakap dalam mendistribusikan pengetahuan.
Untuk itu, hemat saya setiap guru perlu lebih kreatif-inovatif, agar mampu menerapkan metode-metode belajar yang efisien, sesuai dengan situasi pelajar saat ini. Besar harapan penulis jika tulisan ini dapat menjadi solusi yang tepat bagi perkembangan pendidikan Indonesia. Ketika pandemi ini berakhir, solusi ini pun dapat dielaborasikan seturut yang diharapkan. Kini, kunci keberhasilan pendidikan berada di tangan guru. Kalau bukan guru, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Komentar