Langsung ke konten utama

(OPINI) : PARA PENGUNI INVERNO



“Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang bersikap netral di saat krisis moral ”.
(Dante Alighrei) 

             kutipan ini merupakan salah satu dari karya seorang penulis konservatif terkenal bernama Dante Alighrei. Perkataan Dante ini sendiri termaktub dalam sebuah karya besar Dan Brawn yang berjudul Inverno.
           Tentu, kebanyakan orang sudah mengenal penulis yang satu ini. Brawn adalah seorang penulis terkenal yang karya-karyanya masih diminati oleh sebagian orang sampai sekarang. Salah satu karya terkenalnya adalah davinci Code. Kembali pada kutipan di atas, sekiranya terbersit sebuah pertanyaan di pikiran kita, mengapa Brawn mengutip kalimat ini dalam bukunya?. Sejalan dengan kutipan di atas, Brawn sebenarnya ingin memberikan kritikan dan tanggapan pada dunia sekarang. Namun, tanggapan dan kritikan itu disampaikannya secara tersirat dalam cerita yang disajikannya dalam bentuk novel.
         Ketika kita membaca cerita dalam novel tersebut, sedikit demi sedikit kita bisa memahami makna atau maksud dibalik ceritanya. Baginya perkataan Dante di atas masih realistis dengan keadaan dunia sekarang. Tak bisa dimungkiri bahwa dunia yang kita tempati sekarang ini diisi oleh beragam persoalan yang dari waktu ke waktu terus saja terjadi, dan tidak bisa disangkal pula bahwa dunia sekarang tak lebih dari dunia yang penuh kelicikan, keserakahan dan ketidakadilan. Semakin banyak orang yang bersikap apatis dan kabur dari rasa kepedulian, atau singkatnya, dunia sekarang ini tidak lagi berprinsip pada rasa kemanusiaan.
Salah satu masalah pokok dunia yang tidak pernah tuntas kasusnya adalah kemiskinan. Hampir di setiap negara, masalah kemiskinan ini terus saja terjadi, dan merintangi kehidupan berbangsa dan bernegara.sehingga tidak heran jika kemiskinan dijadikan sebagai patokan dalam menentukan keberhasilan suatu negara. Apabila presentase kemiskinan di suatu negara kecil, maka negara tersebut bisa dikatakan sebagai negara yang sukses dalam kehidupan pemerintahannya. 
        Di Indonesia sendiri, kemiskinan berada dalam tingkatan paling atas dalam kasus masalah sosial yang terus terjadi. Masalah kemiskinan ini pun menimbulkan persoalan-persoalan baru seperti gizi buruk, pengangguran,  diskriminasi social dan kriminalitas. 
Jika kita mencermati baik-baik pola atau system politik sekarang ini, sebetulnya ada sebuah sandiwara terselubung yang sedang dimainkan di negeri ini, dan itu semua masih ada kaitannya dengan kasus kemiskinan. Bagi kita penduduk Republik Indonesia, kemiskinan adalah adalah sebuah bencana yang mengahantarkan kita kepada kehancuran. Namun, tidak dengan pemerintah.                                                                                                                                 
                       
        Bagi mereka kemiskinan adalah suatu kesempatan. Menurut analisis pribadi saya, pemerintah menganggap kemiskinan sebagai sebuah komoditi. Komoditi yang saya maksudkan ini memiliki artian bahwa pemerintah menganggap bahwa kemiskinan adalah aset paling berharga yang diperuntukan bagi kepentingan pemerintah sendiri dalam meraup keuntungan yang besar. Contoh praktisnya seperti ini, misalkan di sebuah lokasi tempat tinggal masyarakat ada sebuah potensi sumber daya yang bisa di gunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, yang bisa melihat itu hanya pemerintah sendiri, sedangkan masyarakat kurang mengetahui hal itu lantaran keterbatasan teknologi. 
           Di lain kesempatan, pemerintah mengajak masyarakat sekalian agar mengolah potensi sumber daya itu untuk kesejahteraan. Tanpa pikir panjang, masyarakat pasti akan mengiakannya. Berbagai sarana prasarana disumbangkan permerintah untuk memperlancar pembangunan sumber daya itu. Masyarakat akan menganggap bahwa pemerintah itu baik, pemerintah itu perhatian pada rakyat kecil. Berbagai ucapan terima kasih dan sembah pujian dilantunkan masyarakat kepada pemerintah. Namun, tidak ada satu pun yang tahu bahwa ada intrik politik di balik semua ini. 
        Masyarakat tidak pernah tahu bahwa sebetulnya mereka sudah menjadi tumbal dari keserakahan pemerintah. Sedikit demi sedikit keuntungan yang dihasilkan dari sumber daya itu akan di ambil sebagiannya oleh pemerintah tanpa diketahui oleh masyarakat. Ada tangan-tangan tak terlihat (invisible hand) di balik system yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa oleh pemerintah sendiri. Jikalau suatu hari nanti sumber daya yang ada memberikan dampak buruk bagi masyarakat dan lingkungannya, maka yang dirugikan itu adalah masyarakat sendiri, sedang pemerintah tenggelam dalam kesenangannya dan berfoya-foya dengan keuntungan yang berhasil dirampasnya. Barangkali juga mereka sudah menutup telinga dengan hal ini.
Mengutip kembali perkataan Dante tadi, “Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang bersikap netral disaat krisis moral”. Di luar sana masih banyak persoalan-persoalan yang kurang di perhatikan oleh pemerintah, dan bukan hanya pemerintah saja, kita pun jarang memperhatikannya. 
        Ketika di tengah krisis moral yang tengah terjadi sekarang ini kita hanya diam dan bungkam, sesungguhnya kita sudah menyiapkan tempat untuk diri kita sendiri di neraka. Perlu bagi kita menanamkan benih-benih kepedulian dalam diri kita masing-masing. Ketika kita berhenti untuk peduli, saat itulah kita kehilangan rasa kemanusiaan kita. Berhentilah bersikap apatis di tengah krisis yang sedang melanda ini. Mari kita bangkit dari keterpurukan kita, mari kita bangkit dari kebisuan kita. Inilah saat yang tepat untuk menyalurkan aspirasi kita. Kalau bukan kita, siapa lagi?, kalau bukan sekarang, kapan lagi?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(OPINI) : PRAKTIK PENANGKAPAN IKAN SECARA ILEGAL DI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR DITINJAU DARI REGULASI PEMERINTAH, PERSPEKTIF BUDAYA, TEORI BIOSENTRISME DAN EKOSENTRISME

                  (G ambar diambil dari Google) Dewasa ini, praktik penangkapan dengan cara ilegal terus mengalami eskalasi dari waktu ke waktu. Praktik penangkapan ikan secara ilegal bukan hanya terjadi di area laut, tetapi juga terjadi di areal perairan sungai. Praktik penangkapan ilegal ini biasanya dilakukan dengan cara menggunakan racun, alat setrum, menggunakan pukat hela, menggunakan dinamit, dan dengan melakukan penyedotan air sampai volume air berkurang. Di Manggarai Timur sendiri, praktik yang biasa digunakan adalah dengan menggunakan alat setrum dan cairan beracun. praktik penangkapan ikan dengan cara semacam ini seringkali dilakukan oleh oknum-oknum yang mengejar keuntungan tinggi. Praktik ini sebetulnya sudah di larang oleh pemerintah sendiri. Namun, larangan ini tidak dugubris oleh sebagian masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan cara seperti ini. Ibarat segenggam air yang di siram di tepi jalan panas, laran...

(OPINI) : TARIF KENDARAAN NAIK? JALAN KAKI SAJA!

         (Gambar diambil dari Google)    Presiden Joko Widodo pada akhirnya resmi menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), mulai dari Pertalite, Solar, dan Pertamax. Harga terbaru bahan bakar tersebut mulai berlaku pada Sabtu, 3 September 2022, pukul 14.30 WIB. Berikut rincian harga bahan bakar tersebut menurut penjabaran dari Menteri ESDM, Arifin Tasrif. Harga Pertalite yang semula Rp. 7.650 per liter naik menjadi Rp.10.000 per liter. Solar subsidi dari Rp.5.150 per liter naik menjadi Rp.6.800 per liter. Harga Pertamax dari Rp.12.500 per liter naik menjadi Rp. 14.500.             Kenaikan harga BBM ini sungguh menyulitkan masyarakat Indonesia, lebih khususnya masyarakat dari latar belakang ekonomi kecil. Tidak heran jika para demonstran turut memberi suara atas kebijakan pemerintah tersebut yang menyulitkan masyarakat. Kenaikan harga BBM ini membuat tarif angkutan umum juga mengalami kenaikan....

(Opini) : Guru Cakap, Siswa Tangkap

           (Gambar diambil dari Google)      Keterampilan dan kecakapan seorang guru adalah salah satu kunci keberhasilan dunia pendidikan. Sejarah membuktikan bagaimana kemajuan sebuah bangsa tidak pernah lepas dari potret seorang guru. Guru yang cakap, biasanya memudahkan peserta didik mudah menangkap. Sebaliknya, jika gurunya “gagap,” biasanya peserta didik akan ngap-ngap dan mudah menguap. Bagaimana menakar kualitas guru dan pendidikan yang sebenarnya?            Fenomena selama ini memperlihatkan ada begitu keluarga dari daerah pinggiran atau pedesaan yang berusaha menyekolahkan anak mereka di daerah perkotaan, meskipun di daerah asalnya, sekolah sudah tersedia. Animo masyarakat untuk menyekolahkan anak ke kota, menunjukkan satu anomali terkait pendidikan – muncul anggapan daerah kota jauh lebih berkualitas daripada di desa atau daerah pinggiran. Selain terkait faktor persepsi popularitas wilayah, ada j...